Showing posts with label Artikel Kehutanan. Show all posts
Showing posts with label Artikel Kehutanan. Show all posts

Sunday, May 18, 2014

Cara Membuat Bibit Pohon Akasia



Pohon Akasia merupakan genus dari semak-semak belukar yang bisa ditanam di perkebunan atau pun rimba belantar demansour's Profile on Ping.sg

Cara Membuat Bibit Pohon Akasia
Teknik Pembibitan Pohon Akasia Tanaman akasia termasuk jenis legumenoseae yang sangat respon bekerja sama saling menguntungkan dengan mikroba rhizobium. Dengan demikian penggunaan pupuk hayati Bio p 200 Z meruapakan suatu keharusan untuk menghasilkan tanaman akasia yang cepat dan berkualitas. Teknik pembibitan akasia secara garis besar adalah sebagai berikut :
  • Pemilihan biji yang tua dan padat untuk dijadikan sebagai benih
  • Penyiapan bahan perkecambahan, yaitu media lahan dengan komposisi pasir : tanah : kompos dengan perbandingan 1:1:1. Semprotkan lahan tersebut dengan (pupuk hayati bio 2000 z + phosmit + air dengan perbandingan 1:1:180). Semprotkan secara merata di media perkecambahan
  • Sebarkan biji akasia dengan jarak cukup untuk mencabut bibit yang tumbuh untuk dipindahkan, setelah disebar ditutupi dengan media sekitar 1,5 cm hingga 2 cm. setelah tumbuh sekitar 5 s/d 10 cm maka tanaman siap dipindahkan ke polibag. (atau gunakan cara lain langsung dengan menanam di polibag)
  • Media dalam polibag terdiri dari tanah + pupuk kompos dengan perbandingan 1:1 berikan pupukan organik urea + KCI dan SP 18 perbandingan 1:1:1 dengan jumlah 12 sendok makan setiap 1 polibag media. Semprotkan secara merata bahan tersebut diatas. Setelah dicampur dengan merata maka media siap dimasukan ke polibag
  • Disirami setiap hari, setelah 5 hari sampai 1 minggu media siap diatanami dengan bibit akasia
  • Pemeliharan di pase pembibitan meliputi penyiraman, pemupukan dilakukan setiap 1 bulan sekali dengan menggunakan pupuk Urea + KCI + SP 18 dengan perbandingan 1:1:1 dengan dosis 1/2 sendok makan per batang bibit. Kemudian semprotkan secara merata.
  • Setelah bibit pohon akasia berumur antara 5 s/d 6 bulan dengan ketinggian antara 50 s/d 1 cm maka bibit siap ditanam pada lahanMelakukan pembibitan pohon akasia memang tergolong agak ribet namun jika lakukan secara rutin maka akan terasa mudah, sekian dulu semoga bermanfaat bagi para petani indonesia untuk menguasai teknik pembibitan pohon akasia

Tuesday, October 8, 2013

PEDOMAN PENYADAPAN GETAH PINUS

PEDOMAN PENYADAPAN GETAH PINUS


Getah pinus berada pada batang dimana didalam saluran getah yang arahnya vertical ( longitudinal ) maupun horizontal ( radial ). Saluran getah ini terbentuk secara lisigen, sizogen, maupun sizoligen. Beberapa ketentuan pohon pinus yang akan disadap :

a. Diameter limit cupping, diameter pohon pinus yang akan dsadap adalah diatas 15cm.
b. Selective cupping, pohon-pohon yang akan disadap adalah pohon yang waktu mendatang dijarangi atau ditebang yaitu sejak umur 10 tahun samapai pada daur tebangan atau umur penjarangan. Biasanya dilakukan pada perusahan pengelolaan pinus yang menggunakan pinus untuk berbagai kegunaan.

Beberapa cara teknik penyadapan :
  • Bentuk koakanTeknik ini dilakukan denagn cara mengerok kulot batang lebih dulu, kemudian kayunya dilukai sedalam 1-2 cm, sedang lebarnya 10 cm. Pelukaan dengan cara ini membentuk huruf U terbalik dengan jarak dari permukaan tanah sekitar 15-20 cm. Pelukaan yang baru diatas luka lama dengan tebal jarak 5 mm.
  • Bentuk V Teknik ini hamper sama dengan teknik diatas tetapi berbebtuk huruf V. dapat juga dimodifikasi menjadi V ganda atau seri arah keatas ( rill) yang bentuknya seperti sirip ikan.
  • Goresan atau guratana; Cara ini pada penyadapan pinus jarang dilakukan, umumnya dilakukan pada agathis ( kopal ). Hal ini mengimgat kulit pinus yang tebal. Goresan dilakukan dengan kemiringan 45° atau melingkar.
  • Dengan bor; Dengan syarat diameter 3 cm, 3-12 cm keatas atau kedalam.
  • Dari keempat teknik tersebut yang paling efektif atau paling banyak menghasilkan getah pinus adlah dengan menggunakan metode koakan, kemuidian teknik bentuk V dan teknik bor.
Berikut ini urutan penyadapan untuk koakan pada pinus :
  • Mula-mula kulit batang pada tempat yang akan dibuat pelukaan dibersihkan selebar 10-12 cm kearah atas dimulai dari bawah.
  • Kualitas Getah Pinus; Kualitas getah pinus sadapandibedakan atas dua kelas yaitu :
1. Mutu A
a) Berwarna putih bening
b) Tidak ada campuran tanah/lumpur dan kotoran lain (kandungan kotoran kurang dari 2%)
c) Kadar air kurang dari 3 %

2. Mutu B
a) Berwarna keruh –coklat
b) Ada campuran tanah dal lumpur (kandungan kotoran 2-5%)
c) Kadar air lebih dari 3%

Produk getah yang tidak memenuhi ketentuan kelas kualitas tersebut diatas ditolak untuk diterima.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Getah Pinus Hasil sadapan yang diperoleh dipengaruhi oleh :

1) Faktor internal pohon :
a) Jenis pohon Pinus yaitu pinus yang berbeda hasil getahnya misalnya
Jenis pinus letak persen
• Pinus merkusii 6kg/phn/thn gubal 36,3 %
• Pinus palustris 4,2 kg/phn/thn pangkal 0,64 %
• Pinus maritime 3 kg/phn/thn 10 m dpl 0,33 %
• Pinus khasya 7 kg/phn/thn akar 0,70%
a) Persen kayu gubal,yaitu batang kayu Pinus dengan jumlah kayu gubal terbanyak dapat menghasilkan getah maksimum sebab kayu gubal adalah tempat akumulasi getah tertinggi (36 %)
b) Kesehatan pohon,yaitu jika pohon sehat mungkin menghasilkan getah lebih banyak.
c) System perakaran,yaitu Pinus dengan perakaran yang luas berarti mampun menyerap lebih banyak zat makanan dari tanah,sehingga getah lebih banyak.
d) Persen tajuk (lebar dan tinggi tajuk pohon) yaitu Pinus dengan tajuk lebih banyak memungkinkan proses fotosintesis lebih optimal dan menghasilkan banyak getah.

2) Faktor Ekstern (Lingkungan luar pohon), yaitu :
Jarak tanam yaitu hutan pinus dengan jarak tanam yang jarang iklim mikronya tidak lembab dan bersuhu tinggi sehingga menghasilkan getah pinus lebih banyak,demikian sebaliknya.
Iklim dan tempat tumbuh yaitu pohon pinus yang tumbuh didaerah dengan curah hujan tinggi,dingin atau di daerah dengan tinggi > 700 m dpl menghasilkan getah sedikit.curah hujan rata-rata <>
Bonita yaitu pada tanah yang subur memungkinkan menghasilkan getah pinus yang lebih banyak ( ada 7 kelas bonita)

3) Faktor perlakuan oleh manusia
• Bentuk sadapan yaitu hasil sadapan dari bentuk koakan lebih banyak dari rill dan bor
• Arah sadapan yaitu arah menghadapnya luka sadapan menghadap timur paling banyak menghasilkan getah kemudian disusul arah utara,selatan dan barat.
• Arah pembaruan, yaitu kea rah atas atau bawah.pembaruan ke atas menghasilkan lebih banyak getah.
• Upaya stimulansia, yaitu upaya perangsangan pada luka sadapan dengan bahan kimia asam.upaya stimulansia harus menggunakan pedoman yang teliti agar tidak merugikan.bahan stimulansia yang dapat dipakai misalnya asam sulfat,asam oksalat,CuSO4,bolus alba,Ethrel dengan jumlah tertentu yang ditentukan.

4)Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produk
o Asal (umur pohon ) getah yang diperoleh,makin tua makin banyak dan bagus.
o Kualitas getah yang tersedia
o Lama menunggu terasuk penyimpanan,makin lama disimpan makin tidak baik.
o Penyimpana dalam proses pencampuran dengan bahan penolong,bila tepat maka optimal rendemen dan kualitas.

5)Sifat dan Kegunaan
Gondorukem didapat dari hasil pengolahan getah pinus,bersifat rapuh,bening,mempunyai titik leleh rendah dan bau khas terpentin serta tidak larut dalam air.
Manfaat gondorukem adalah :
o Industri Batik : bahan penyampur lilin batik sehingga diperoleh malam.kebutuhn kira-kira 2.500 ton/thn
o Industry kertas : bahan pengisi dalam pembuatan kertas.kebutuhan kira-kira 0,5 % dari produksi kertas atau 2.000 ton/thn
o Industry sabun : sebagai campuran kira-kira 5-10% dari berat sabun.
o Pembuatan Vernish,tinta,bahan isolasi listrik,korek api,lem,industry kulit dan lalin-lain.
o Di luar negeri manfaat lain gondorukem dan derivatnya digunakan untuk membuat resin sintetis,plastic,lem,aspal,bahan pliitur,lak sintetis,industry sepatu,galangan kapal,dll.
Untuk minyak terpentin-nya dapat digukana secara langsung dan muurni melalui upaya distilalsi ualng serta melalui pengolahan lanjutan,misalnya untuk pelarut organic,pelarut resin,bahan semir sepatu,logam dan kayu dan bahan kamfer sintetis dll.

Prospek Pemanfaatan Getah Pinus

Telah kita ketahui bahwa ada kecenderungan terjadinya penurunan produktifitas hutan alam, terutama hasil hutan berupa kayu, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hal ini disebabkan karena selama ini pemerintah lebih mengutamakan hasil hutan berupa kayu sebagai produk primadona dalam bidang bisnis kehutanan untuk memperoleh devisa yang sebanyak-banyaknya. Kondisi ini telah mengakibatkan rusaknya lingkungan hutan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta bentuk-bentuk kerusakan yang lain. Berdasarkan hal tersebut maka pengelolaan hutan di masa yang akan datang seyogyanya diarahkan untuk lebih meningkatkan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang jenis dan potensinya sangat berlimpah. Banyak pakar yang memprediksi bahwa pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu akan berperan lebih penting dibandingkan dengan produk-produk kayu, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, sosial maupun budaya.

Salah satu produk hasil hutan bukan kayu yang mempunyai prospek cukup cerah di masa mendatang untuk dikembangkan di Indonesia adalah gondorukem yang merupakan hasil destilasi dari getah (oleo-resin) yang disadap dari pohon pinus (Pinus merkusii). Peluang mengembangkan industri gondorukem ini cukup besar, mengingat potensi hutan pinus yang cukup besar yang belum dimanfaatkan secara optimal, serta adanya peluang pasar yang terbuka lebar, baik untuk keperluan domestik maupun ekspor.

Prospek Pemanfaatan Getah Pinus
Kabupaten Aceh Tengah memiliki potensi hutan pinus alam yang sangat baik seluas ± 90.000 ha. Sampai saat ini pemanfaatan tegakan pinus masih tebatas pada pemanfaatan kayu sebagai produk utama. Pemanfaatan getah pinus dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan sebagai penyadap getah. Berdasarkan pengalaman sadapan pinus yang telah dilakukan di Perum Perhutani, produktivitas sadapan getah pinus adalah 9 gram/pohon/hari. Dengan memperhitungkan luas areal yang disadap adalah 50 % maka potensi getah pinus yang dihasilkan adalah sebesar 121,5 ton per hari.

Biaya pengelolaan penyadapan pinus yang terdiri dari : upah sadap, penanganan getah, angkutan dan biaya manajemen lainnya adalah sebesar Rp 8.000,-/kg. Harga getah pinus di pasar internasional pada awal tahun 2011 adalah sebesar US $ 1700 per ton atau sekitar Rp 15.300,- per kg ( US $1 = Rp 9.000,-). Dengan demikian potensi pendapatan yang akan diterima bila dilakukan penyadapan pinus di Kabupaten Aceh Tengah adalah sebesar Rp 886.950.000,-per hari.

Prospek Pabrik Gondorukem dan Terpentin
Gondorukem diperoleh dengan cara destilasi getah yang diperoleh dari penyadapan pohon pinus. Setelah diangkut ke pabrik, getah hasil penyadapan terlebih dulu dilakukan pengenceran dan penyaringan, selanjutnya di-destilasi pada suhu dan tekanan tertentu. Desain peralatan dalam produksi gum rosin ini bervariasi pada setiap negara , namun secara garis besar proses tersebut dapat dilihat pada Diagram 1. Prinsip dari metoda ini adalah memisahkan antara gondorukem dan terpentin yang terdapat di dalam getah pinus melalui proses destilasi, antara lain melalui proses : pengenceran; pencucian; penyaringan; pemasakan dan pengemasan. Instalasi proses produksi sebagaimana pada gambar 1.

Gambar 1. Instalasi Proses Produksi
Pentahapan proses produksi gondorukem dan terpentin secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Proses Pengenceran
    Pengenceran larutan getah dilakukan dengan cara menambahkan 1.000 liter dalam tangki melter, kemudian dipanaskan pada suhu 68-80 ºC (derajad Celcius) selama 10-15 menit.
  2. Proses Pencucian
    Pencucian larutan getah pada tangki settler dilakukan denga cara mencampurkan Asam Oksalat 3-5 kg/batch untuk mengendapkan ion besi yang berasal dari kotoran getah.
  3. Proses Penyaringan
    Larutan getah disaring secara bertahap pada aliran sebagai berikut :
    • Aliran dari tangki melter - settler dengan filter RGT4 – aliran dari tangki settler – tangki penampung dengan filter Gaf Stainer
    • Aliran dari tangki penampung – Ketel pemasak dengan filter GafStaner.
  4. Proses Pemasakan
    Getah bersih dari tangki penampung dipompakan ke ketel pemasak melalui filter Gaf PO.1 mikron dan dipanaskan pada suhu 160-165 ºC dan vacuum menunjukkan 40-60 cmHg selama ± 3 jam, sehingga larutan tersebut matang menjadi gondorukem dan dialirkan pada instalasi pengemasan (canning).
  5. Proses Pengemasan (canning)
    Proses canning merupakan proses akhir dari pemasakan getah pinus yang mana gondorukem tersebut dicurahkan ke dalam wadah drum kerucut. Pada saat pengisian gondorukem tersebut (canning) dilakukan penimbangan dengan berat netto 240 kg/drum.
Selanjutnya produk gondorukem dan terpentin sebelum dipasarkan telah melalui pengujian yang mengacu pada standar mutu (SNI). 


Pengujian Produk Akhir
  1. Pengujian Kualitas dengan metode Lovibond : X, WW, WG bagi Gondorukem
  2. Pengujian titik softening point untuk gondorukem
  3. Pengujian kadar kotoran untuk gondorukem
  4. Pengujian kejenuhan warna untuk terpentin
  5. Pengujian Berat Jenis untuk terpentin
  6. Jika dipasarkan ke luar negeri (export), masih diperlukan juga pengujian, antara lain : Optical Rotation, Flash Alpha, Beta Pinen Content, Refrective Index, dan sebagainya.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Kabupaten Aceh Tengah mempunyai kawasan hutan Pinus yang cukup luas, sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan produk hilirnya selain untuk meningkatkan perekonomian dalam arti menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD), juga dapat menyerap banyak tenaga kerja serta masih banyak lagi manfaat yang diperolehnya. Potensi produksi getah pinus di Kab Aceh tengah sebesar 121,5 ton per hari memerlukan pabrik dengan kapasitas 30.000 ton per tahun. Untuk membangun pabrik sebesar ini diperlukan investasi sebesar Rp 50 M. Rendemen yang dihasilkan dari pengolahan getah pinus adalah 71 % berupa gondorukem dan 16 % berupa terpentin. Biaya yang diperlukan untuk mengolah getah pinus adalah sebesar Rp 2.500,-/kg getah. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan untuk penyadapan getah pinus sampai menjadi produk olahan adalah sebesar Rp 1.275.750.000 per hari.

Potensi produksi gondorukem dari Aceh tengah adalah 86,265 kg per hari sedangkan terpentin sebesar 19.440 kg per hari. Harga gondorukem di pasar Internasional pada awal tahun 2011 adalah sebesar US $ 2500 per ton atau Rp 22.500 per kg dan harga terpentin adalah sebeser US $ 3300 per ton atau Rp 29.700,- per kg. Dengan demikian potensi penjualan gondorukem dan terpentin dari Kabupaten Aceh Tengah adalah Rp 2.518.330.500,- per hari. Potensi Pendapatan Daerah dari diprediksi sebesar Rp 1.242.580.500 ,- per hari. Produk hilir gondorukem dan terpentin dapat diolah menjadi bahan industri untuk pembuatan kertas, sabun, tekstil, tinta cetak, cat/vernish, bahan issolasi listrik dan lain sebagainya.
 
Copyright 2010 info burung. All rights reserved.
Themes by Ex Templates Blogger Templates l Home Recordings l Studio Rekaman